Ada sebuah hubungan indah yang terbangun saat seorang hamba melaksanakan sholat. Didalamnya, Allah ingin membangun hubungan yang berlandaskan cinta antara Dia dan hamba Nya. Dalam hadist qudsi Allah berfirman, "Aku bagi sholat menjadi dua bagian antara Aku dan hambaKu." Ketika si hamba dalam sholatnya mengucapakan, "Alhamdulillahi Rabb al-'aalamiin" (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), Allah berucap: "HambaKu memujiKu." Ketika ia mengucapkan: "Ar-rahmaan Ar-Raahiim" (Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), Allah berucap: "HambaKu menyanjungKu." Ketika hambaKu berucap, "Maaliki yaum ad-diin" (Yang menguasai hari pembalasan), Allah berucap, "HambaKU mengagungkan Ku." Ketika ia mengucapkan:"Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" (Hanya Engkualah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan), Allah berucap: "Ini antara Aku dan hambaKU, dan bagi hambaKu apa yang ia minta." Dan ketika ia mengucapakan: "Ihdina ash-shirath al-mustaqiim, shiraath al-ladziina an'amta 'alaihim ghairi al-maghdhubi 'alaihim wa la adh-dhalliin" (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni'mat kepada mereka, bukan jaln mereka yang Engkau murkai dan bukan pula jala mereka yang sesat), Allah berucap,"Ini untuk hambaKU dan bagi hambaKu apa yang ia minta." [Dilansir oleh Muslim (395) dari Abu Hurairah ra]
Karena itulah, salah seorang tabi'in mengatakan, "saya suka membaca al-fatihah dengan pelan-pelan agar membayangkan balasan (jawaban) Tuhanku."

No comments:
Post a Comment