Untuk teman-temanku yang sedang
menunggu jemputan pangeran berkuda atau berhondanya.
Berapa sih umur teman-teman? 24 or 25 or 26?...apa sudah mendapatkan julukan telat nikah? Telat dari ukuran siapa? Heehee...hanya dari manusia bukan??....Siapa juga sih yang mengkondisikan teman-teman belum mendapatkan jodoh?? Yang Maha Kuasa bukan?? Yang Kuasa mengawalkan dan juga mengakhirkan dan Kuasa menepatkan sesuatu sesuai dengan ketepatannya. Then.............
Berapa sih umur teman-teman? 24 or 25 or 26?...apa sudah mendapatkan julukan telat nikah? Telat dari ukuran siapa? Heehee...hanya dari manusia bukan??....Siapa juga sih yang mengkondisikan teman-teman belum mendapatkan jodoh?? Yang Maha Kuasa bukan?? Yang Kuasa mengawalkan dan juga mengakhirkan dan Kuasa menepatkan sesuatu sesuai dengan ketepatannya. Then.............
Tetap saja, berkecamuknya rasa tak bisa dipungkiri (untuk ukuran orang normal ni..hee). Bukan iri lantas benci, namun rasa iri untuk segera menikmati indahnya (pernikahan) yang banyak diharapkan. Jangan salah, jika rasa ini terus dibiarkan, ia akan semakin berkembang pada hal yang lebih mengerikan dan bisa-bisa membawa diri pada titik terendah (hiii....). Bisa jadi rasa yang berkecamuk akan menutup kenikmatan yang lain karena terfokusnya hanya pada satu kenikmatan itu.
Lantas bagaimana teman-teman memforward rasa yang kadang hinggap itu??...Tentunya tiap kepala mempunyai pendapat yang berbeda. Dan ini ada beberapa pendapat dari kepala, ups, dari fikiran teman yang pernah aku jumpa. Read more...
Rumus yang pertama: selalu ingat,
bahwa untuk masalah dunia, kita hendaknaya tidak menengok ke atas namun
kebawah (‘Cengeng’ nanti kalau liat keatas terus..hhehe...). Penerapannya, sebisa
kita dengan terus memohon pertolonganNya untuk melihat yang tidak lebih
beruntung dari kita. Masih ada wanita di atas kita yang mungkin berumur 30, 35
atau 40 tahun bahkan sampai ia menutup mata belum jua bertemu jodohnya. Siti Khadijah,
menikah dengan Rasulullah saw umur berapa coba??humm....
Rumus kedua: selalu berhusnudzon
kepada Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta, yang pastinya mengatur juga
kenapa kita belum dipertemukan dengan jodoh yang kita harapkan. Apa yang Dia
tentukan adalah yang terbaik untuk kita. So, kita gali sebanyak-banyaknya
hikmah mengapa kita belum jua dipertemukan dengan pangeran kita, e.g: kita
belum bisa mengurus diri sendiri, bagaimana akan mengurus suami? Maka dari itu,
Dia memberi kita kesempatan untuk lebih menyiapkan diri untuk menjadi makmum
sekaligus penyejuk hati imam kita kelak. Dan kesempatan itu, tidak lain dan
tidak bukan adalah belumnya kita bertemu jodoh.
Rumus yang ketiga: syukur.
Bukankah dengan bersyukur akan melanggengkan ni’mat yang sudah ada dan menarik
nikmat yang belum sampai pada kita? Lantas bagaimana cara kita bersyukur? Mungkin
ada yang komen, Lha wong belum ketemu jodoh malah disuruh bersyukur.
Haloo...jodoh hanyalah salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat yang Dia
anugerahkan. Kalo kita belum bertemu jodoh, ya kita syukuri kesempatan ini. Eits, kesempatan itu nikmat lho,,, dan jika ingin menjadi hamba yang tau diri,
nikmat haruslah disyukuri. Mensyukuri kesempatan dengan menggunakan kesempatan
yang ada untuk memperbaiki diri dan memaksimalkan potensi.
Rumus keempat: yakin. Selalu
yakin bahwa akan hadir seseorang yang tepat, di waktu dan tempat yang tepat
pula. Just do it!hummm...
Hmmm..ternyata baru dapat empat
rumus. Dan rumus ini bisa bertambah bagi siapa saja yang ingin menambahkan
pendapatnya..

No comments:
Post a Comment