Saturday, April 21, 2012

“Jodoh yang tak kunjung datang?...”

“Kapan kamu akan menyusul teman-temanmu? mereka sudah pada menggendong anak lho.....”, apa ada dari temen-temen yang belum merried mendapati pertanyaan demikian?...Atau mungkin, pernah dihadapkan pada banyaknya undangan pernikahan yang berdatangan? Atau dikabarkan bahwa temen seangkatan atau adik kelas yang sudah menikah, hamil dan punya anak sekian dan sekian?...Aku kira, saat dikondisikan demikian, akan ada rasa yang berkecamuk di dada. (meski aku tak dapat memastikan kebenarannya..hihi). Rasa yang berkecamuk seperti apa itu??(ah, sulit diungkapkan dengan kata-kata..hihi)


Untuk teman-temanku yang sedang menunggu jemputan pangeran berkuda atau berhondanya.
Berapa sih umur teman-teman? 24 or 25 or 26?...apa sudah mendapatkan julukan telat nikah? Telat dari ukuran siapa? Heehee...hanya dari manusia bukan??....Siapa juga sih yang mengkondisikan teman-teman belum mendapatkan jodoh?? Yang Maha Kuasa bukan?? Yang Kuasa mengawalkan dan juga mengakhirkan dan Kuasa menepatkan sesuatu sesuai dengan ketepatannya. Then.............

Tetap saja, berkecamuknya rasa tak bisa dipungkiri (untuk ukuran orang normal ni..hee). Bukan iri lantas benci, namun rasa iri untuk segera menikmati indahnya (pernikahan) yang banyak diharapkan. Jangan salah, jika rasa ini terus dibiarkan, ia akan semakin berkembang pada hal yang lebih mengerikan dan bisa-bisa membawa diri pada titik terendah (hiii....). Bisa jadi rasa yang berkecamuk akan menutup kenikmatan yang lain karena terfokusnya hanya pada satu kenikmatan itu.

Lantas bagaimana teman-teman memforward rasa yang kadang hinggap itu??...Tentunya tiap kepala mempunyai pendapat yang berbeda. Dan ini ada beberapa pendapat dari kepala, ups, dari fikiran teman yang pernah aku jumpa. Read more...

Rumus yang pertama: selalu ingat, bahwa untuk masalah dunia, kita hendaknaya tidak menengok ke atas namun kebawah (‘Cengeng’ nanti kalau liat keatas terus..hhehe...). Penerapannya, sebisa kita dengan terus memohon pertolonganNya untuk melihat yang tidak lebih beruntung dari kita. Masih ada wanita di atas kita yang mungkin berumur 30, 35 atau 40 tahun bahkan sampai ia menutup mata  belum jua bertemu jodohnya. Siti Khadijah, menikah dengan Rasulullah saw umur berapa coba??humm....

Rumus kedua: selalu berhusnudzon kepada Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta, yang pastinya mengatur juga kenapa kita belum dipertemukan dengan jodoh yang kita harapkan. Apa yang Dia tentukan adalah yang terbaik untuk kita. So, kita gali sebanyak-banyaknya hikmah mengapa kita belum jua dipertemukan dengan pangeran kita, e.g: kita belum bisa mengurus diri sendiri, bagaimana akan mengurus suami? Maka dari itu, Dia memberi kita kesempatan untuk lebih menyiapkan diri untuk menjadi makmum sekaligus penyejuk hati imam kita kelak. Dan kesempatan itu, tidak lain dan tidak bukan adalah belumnya kita bertemu jodoh.

Rumus yang ketiga: syukur. Bukankah dengan bersyukur akan melanggengkan ni’mat yang sudah ada dan menarik nikmat yang belum sampai pada kita? Lantas bagaimana cara kita bersyukur? Mungkin ada yang komen, Lha wong belum ketemu jodoh malah disuruh bersyukur. Haloo...jodoh hanyalah salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat yang Dia anugerahkan. Kalo kita belum bertemu jodoh, ya kita syukuri kesempatan ini. Eits, kesempatan itu nikmat lho,,, dan jika ingin menjadi hamba yang tau diri, nikmat haruslah disyukuri. Mensyukuri kesempatan dengan menggunakan kesempatan yang ada untuk memperbaiki diri dan memaksimalkan potensi.

Rumus keempat: yakin. Selalu yakin bahwa akan hadir seseorang yang tepat, di waktu dan tempat yang tepat pula. Just do it!hummm...

Hmmm..ternyata baru dapat empat rumus. Dan rumus ini bisa bertambah bagi siapa saja yang ingin menambahkan pendapatnya..

No comments: